Sabtu, 19 Februari 2011

Menjadi Seorang Mutathawwi'

kerjakanlah sebagian shalat kalian di rumah, jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
   Yang di maksud dengan “sebagian shalat” dalam Hadits ini adalah shalat sunnah, bukan shalat fardhu. Sebab bagi seorang muslim, shalat 5 waktu itu diutamakan dikerjakan di Masjid secara berjamaah. Dalam keadaan apa pun seorang Muslim tetap berusaha menjalankan shalat fardhu di masjid, kecuali ada udzur, misalnya sakit atau turun hujan yang lebat.   
   Shalat sunnah, selain menambah kuantitas perjumpaan kita kepada Allah Subhanahu Ta’ala sekaligus penyempurna dan pelengkap kekurangan shalat fardhu. Kita sadar sesasar-sadarnya bahwa shalat fardhu yang kita kerjakan masih banyak yang bolongnya. Masih terdapat kekurangan, baik kurang memenuhi syarat rukunnya, lebih-lebih kekhusyu’annya. Saat shalat, pikiran kita masih melayang entah ke mana. Antara gerakan lisan dengan gerakan hati masih belum sama. Untuk menambah kekurangan tersebut, kita tambahkan shalat sunnah.
   Rasulallah Shallallahhu ‘alaihi wa sallam bersabbda: “Pertama kali yang di hisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika dia menyempurnakannya, maka shalat itu  akan dicatat sempurna untuknya. Jika tidak menyempurnakannya, maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepasa malikat-Nya, lihatlah, apakah kalian mendapati hamba-Ku  melaksanakan shalat sunnah, sehingga kalian menyempurnakan shalat wajibnya dengan shalat sunnah tersebut? Kemudian juga zakat demikian, lalu amal-amal perbuatan itu dihisab berdasarkan hal tersebut.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
   Siapa yang tidak ingin mendapat nilai sempurna di sisi Allah? Ternyata shalat sunnah tidak saja menjadikan kesempurnaan rapot kita di sisi Allah, shalat sunnah juga dapat mengangkat derajat manusia. Setiap kali kita sujud, Allah meninggikan satu atau dua derajat. Jika kita mau bersujud tak hanya shalat wajib saja, maka semakin tinggi derajat kita. Andai kita mau sujud di tengah malam (qiyamul lail) 11 rakaat dan setiap rakaat terdiri dari 2 sujud,  maka sesungguhnya kita telah melakukan 22 kali sujud. Belum di tambah shalat wajib, dan shalat sunnah rawatib.
   Rasulallah bersabda,”Engkau harus banyak bersujud, sebab setiap kali engkau bersujud kepada Allah, Dia pasti mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu kesalahanmu.”(Riwayat Muslim)
   Lebih dahsyat lagi, ternyata shalat sunnah itu akan mendatangkan kecintaan Allah, siapa yang tidak ingin dicintai Allah?
   Ada cara peraktis, mudah, dan murah menjadi kekasih Allah, yaitu memperbanyak amalan sunnah. Abu  Hurairah bercerita kepada Rasulallah pernah bersabda,”Sesungguhnya Allah berfirman,”siapa saja memusuhi kekasih-Ku maka Aku nyatqkan perang kepadanya. Seorangg yang dekat kepada-Ku dengan amalan yang Aku cintai,berupa ibada wajib dan senantiasa melaksanakan amalan sunnah, pasti Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar,pandangannya yang dia gunakan untuk memandang, tangannya yang di gunakan untuk menyerang, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta-Ku, Aku pasti memberinya. Jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu terhadap apa yang Aku lakukan. Aku hanya ragu terhadp jiwa seorang mukmin yang membenci kematian, dan Aku tidak suka perbuatan buruknya.” (Riwyat Bukhari)
   Akhinal kiram...... saya mengajak diri saya sendiri, juga kaum Muslimin agar menjadi mutathawwi, yakni orang yang gemar mengerjakan shalat-shalat sunnah. Mari kita rajin menaung dengan shalat sunnah. Wallahu a’lam.